Perempuan Dalam Suaranya

PEREMPUAN DALAM SUARANYA
Oleh : Nur Hikmah
Mahasiswa STAI AL-GAZALI BARRU 
    
Dalam pandangan umum perempuan adalah sosok yang akan hamil dan melahirkan seorang anak. Sebagaimana yang terdapat dalam KBBI bahwasanya perempuan adalah orang (manusia)  yang mempunyai vagina dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak dan menyusui. Dalam relasinya dapat kita hubungkan dengan kesetaraan gender dimana yang lumrah kita ketahui bahwa gender ialah ‘jenis kelamin'. Dan dalam gender itu sendiri terdapat perbedaan yang sangat signifikan tetapi jauh dari semua itu, gender dalam hal ini dalam lingkup sosial dan kebudayaan. Paradigma masyarakat yang sering menyebut perempuan sebagai “warga kelas dua”yang eksistensinya tak begitu diperhitungkan, dan pembahasan perihal perempuan sebagai suatu kelompok yang  memunculkan sejumlah kesulitan.Membuat sebagian kaum perempuan merasa terpanggil tuk menyuarakan hak dan kewajibannya untuk turut serta dalam meluangkan aspirasi dan inspirasinya. Sehingga dalam posisinya sebagai perempuan dalam masyarakat memberi kesan universal. 
     Namun, dibalik semua keperempuanannya itu terdapat peran yang sangat mendasar bagi seorang perempuan. Bagaimana ia akan menjadi seorang dengan gelar “ibu”. Disinilah peran utama seorang perempuan selaku madrasah ulum atau pertama bagi anak-anaknya. Konsep yang melekat dalam kebiasaan yang menjadi suatu hal yang universal mencakup persoalan pendidikan bagi kaum perempuan, dimana pemberian batasan ini diluar dari kewajaran yang selayaknya didapatkan dalam kesetaraan gender. Disebabkan karena peralihan peran ini terkhusus sebagai ibu rumah tangga yang mengurus keluarganya. Tetapi, disisi lain perempuan juga sangat membutuhkan yang namanya pendidikan itu, dan bahkan dalam tradisi masyarakat pedesaan seorang perempuan yang telah akil balig maka sudah waktunya memasuki jenjang pernikahan dan dalam konsep tersebut biasanya dilakukan dengan proses perjodohan. Karena tuntutan demikianlah yang mengorbankan sebagian nasib dari kaum perempuan. Terlepas persoalan perempuan memang begitu istimewa dalam koodratnya yang harus dipertanggung jawabkan atas dirinya. 
    Dalam suaranya perempuan tak bisa mengungkapkan sebagian aspirasinya untuk menolak. Karena pantang bagi dirinya menolak perintah dari kedua orang tua. Adakalanya mereka harus mengalah dan terpaksa mengorbangkan hak dan cita-cita mereka. Dengan alasan pengabdian itulah perempuan hanya bisa diatur dan tak jarang yang bisa mengatur dirinya sendiri. Tetapi untuk saat ini diera yang begitu modern ini masih saja terjadi hal demikian. Merasa pasrah akan keadaan itulah yang sebagian dari kita lakukan. Tetapi tidak! Kepada setiap perempuan sebagaimana telah dicanangkan oleh sosok perempuan yang berdarah Jepara yang menyuarakan hak-hak perempuan dalam emansipasinya, sebagai rujukan dalam bukunya yang sangat populer yaitu “Habis Gelap Terbitlah Terang”ialah R.A. Kartini. Tak mudah tuk melakukan pengorbanan sedemikian rupa, demi hakmu wahai para perempuan. Disamping itu kesetaraan gender ini harus dipergunakan sebagaimana mestinya, sebab yang membedaan ada pada persoalan sudut pandang satu sama lain. Karena kita memiliki hak yang sama selaku manusia yaitu HAM. Lalu untuk apa hak demikian jika tak diperjuangkan?. Penindasan kepada perempuan kian merajalela, dimana mereka diperbudak yang mirisnya oleh sesamanya sendiri. Lantas bagaimana cara menegakkan hak-hak kita dan mengeluarkan aspirasi dan inspirasi kita, jika kebungkaman ini terus saja terbelenggu karena tak adanya yang menyuarakan hak itu kembali. Sebab tuntutan-tuntutan tak bermoral, terkadang proses pendidikan perempuan terhambat karena alasan keperempuanannya, lalu bagaimana cara agar kita bisa maju, jika tak melawan kebiasaan-kebiasaan yang terus saja mengikat kita. Bukan berarti ingin menyamakan posisi antara laki-laki dan perempuan tetapi setidaknya disetarakan. Walau bagaimanapun pemimpin tertinggi dalam kedudukan islam tetaplah pada kaum Adam. Namun, bagi kaum Hawa bukan tanpa alasan tuk berani memimpin dan memperjuangkan hak kita. Jika suaramu tak terungkap maka bersiap-siaplah tertindas. Kelemahan bukan terletak pada keperempuananmu, karena itu adalah fitrah. Tetapi, kembali pada personal masing-masing untuk sadar akan hak dan kewajiban terkait bagaimana menfungsikan koodrat kita sebagaimana mestinya. Jangan biarkan harga dirimu terinjak oleh kaum Adam dalam pekiknya problematika saat ini, dan bahkan oleh sesamamu. Adakalanya dalam persoalan yang sedemikian rumit dan runtut ini keorganisasian juga perlu dalam membimbing dan membentuk karakter serta mental perempuan. Namun, salah satu alasan yang lazim didengarkan ialah karena sebagian dari proses pengkadernisasian dilakukan pada malam hari hingga menghambat pergerakan perempuan. Karena sebagian dari kita perempuan dituntut agar tidak keluar malam, begitu yang terjadi dalam lingkup pedesaan tetapi lain halnya jika diluar kota. Ini hanya terjadi pada sebagian kasus saja, atas dasar pengertian itulah yang menjadi acuan tak diperbolehkan, tetapi apa salahnya memberi pemahaman dan kembali pada individu itu sendiri. Berbicara terkait dengan organisasi dalam faktanya bahwa banyak perempuan hebat diluar sana yang lahir dan dibentuk dalam organisasi, ini terlepas dari organisasi tertentu. Sebab dimanapun kita bernaung jika masih memenuhi standar dan koridor yang telah ditentukan oleh kemauan itu sendiri maka jiwa-jiwa kuat itu akan terbentuk. 
    Perempuan sebenarnya adalah manusia tangguh yang mampu mencetak generasi-generasi unggul dimasa depan, dengan ini selayaknya perempuan disamping sebagai ibu rumah tangga yang baik juga harus bermanfaat untuk sesamanya. Sebagaimana kita ketahui bahwasanya pendidikan akan mengangkat derajat kita. Dengan catatan tak mengabaikan keluarga dan setiap haknya terpenuhi. Sebab banyak juga kasus wanita karier yang menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya hanya pada pengasuh dan melalaikan kebutuhan anaknya. Tentu, semua ini kembali lagi pada personal masing-masing bagaimana cara kita memenej waktu sebaik mungkin, agar dapat mengoptimalkan kerja nyata dan memenuhi tanggung jawabnya sesuai kebutuhan.

Komentar